Membangun Selayar dan Addiksi Celengan

Celengan Yang Membuat Sakaw

Zat Addiktif Yang Membuat Sakaw

“Membangun Selayar”, kata yang begitu mudah diucapkan, sehingga begitu sering didengar, terutama saat ini. Kata-kata ini menjadi sangat besar, karena ada kata Selayar. Dalam kata ini, tidak saja tercakup tanah dan orang, tapi juga sejarah, budaya dan kearifan. Menjelang suksesi kepemimpinan daerah, beberapa yang berminat untuk Selayar 1 mulai memperkenalkan diri, baik terang-terangan maupun sekedar melempar wacana, siapa tahu ada yang mendukung dan syukur-syukur bila ada yang melamar untuk diajak berpasangan.

Kata “Membangun Selayar” juga menjadi sangat besar, karena membangun adalah sebuah kerja panjang dengan strategi dan tahapan yang jelas, memang mampu dilakukan (attainable) dan terukur – untuk membedakannya dengan hayalan, sehingga kata ini tidak sekedar berarti mengeluarkan dan membelanjakan isi celengan bernama APBD.

Ukuran “kinerja” yang hanya berpatokan pada realisasi anggaran dengan kelengkapan pertanggungjawaban membuat kita hanya berputar di sekitar celengan, eh, APBD itu tadi. Kinerja, belumlah kita ukur sejauh mana anggaran itu memberi dampak pada peningkatan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Akibatnya, capaian target yang bertumpu pada realisasi tanpa dikejar dampak – sehingga tidak perlu dikejar beban psikologis, memunculkan “kenikmatan” dan selanjutnya menciptakan ketergantungan, yang pada akhirnya membuat kita ketagihan.

Tapi Selayar bukankah sebuah celengan yang hanya dengan sedikit upaya, isinya dapat dikeluarkan.

Seorang anak – yang sudah tahu isi celengan, akan menggunakan lidi yang ujungnya diberi lem untuk mengeluarkan uang kertas , atau membaliknya secara perlahan sehingga isinya yang coin bisa keluar melalui lubang kecil di punggung celengan.

Selalu ada godaan, bagi mereka yang tahu isi celengan, dan cara mengeluarkannya. Sehingga seseorang bisa begitu mudah dan ringan mengajak mengeluarkan isi celengan, eh, mengeluarkan kata membangun Selayar.

Akan sangat menggelikan, bila seseorang mengajak membangun Selayar karena tahu isi celengan – terlebih isi celengan bukan dari keringatnya, dan mengabaikan untuk siapa saja isi celengan itu. Tak juga penting bagaimana mengisinya.

Orang-orang yang mengajak membangun Selayar – dengan menggunakan kata membangun, bisa jadi sangat pintar dengan digunakannya logika Fuzzy, atau justru  seseorang yang memiliki kapasitas intelektual bodong tapi sangat percaya diri karena menganggap masyarakat penerima informasi sebagai masyarakat bodoh, yang diyakini akan langsung percaya dan mendukung.

Zaman kampanye bombastis yang mengelegar seharusnya sudah ditinggalkan. Kita, atau siapapaun – dengan niat baik dan tulus untuk “membangun”, seharusnya mengusung tema-tema solutif bagi permasalahan masyarakat – yang selama ini jauh dari celengan, untuk dicarikan solusi melalui pemanfaatan isi celengan secara efektif dan efisien.

Untuk itu, kata-kata besar seperti ini tidak lebih dari sebuah olok-olok – untuk penuturnya tentunya, lebih-lebih jika penuturnya sendiri tidak mampu membangun dirinya, dan selama ini justru hidup dan “besar” dari celengan.

(selayarbaru@yahoo.com)

Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: