Caerimonia

pawelkuczynski“Caerimonia” pada awalnya adalah sebuah prosesi kegamaan, sebuah kegiatan yang melibatkan keyakinan dan optimisme akan datangnya hari esok yang lebih baik.

Pada perkembangan selanjutnya, ritual spiritual menjadi tergerus, dan yang dominan adalah prosesi “partir” (sekumpulan orang yang memisahkan diri) – yang kemudian menjadi dasar kata “part” yang berarti “sisi” atau “sebagian”, dan “party” yang bisa berarti partai atau pesta. Prosesi “partir” ini ditandai dengan tabuhan irama kegembiraan seperti musik, jamuan makan dan minum, serta “penaklukan” yang antara lain dikumandangkan melalui pidato-pidato yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan “caerimonia” itu sendiri. Di abad pertengahan, “penaklukan” itu akan berkisar pada berapa banyak lawan yang telah dibantai, berapa daerah yang dikalahkan, berapa barang yang dirampas, berapa wanita yang dibuat keok, dst.

Dalam konteks Indonesia, “caerimonia” kemudian disepadankan dengan kata “upacara” yang juga pada awalnya merupakan prosesi keagamaan berupa ritual kepada Sang Penguasa Jagad.

“Caerimonia” ini kemudian dimutilasi menjadi seremonia semata atau lebih tepatnya hanya sebuah prosesi “partir” – yaitu “sekumpulan orang” yang saling menggembirakan.

Maka ketika Hari Jadi Selayar lebih kepada upacara dan pertunjukan keramahan yang kita sebut ramah-tamah, sebenarnya kita sedang memutilasi “caerimonia” akan keyakinan dan optimisme kita sendiri. Kita ingin memiliki perjalanan sejarah yang panjang, tanpa kita berada di dalamnya. Kita memaksa waktu untuk memihak kita, untuk dikenang dan mengenang, tanpa mencari tonggak dalam rentang sejarah itu. Sebuah “manipulasi sejarah”, adalah ketika kita mengagungkan sejarah – yang ditorehkan orang lain pada satu masa, dan kita sendiri tidak berdaya dalam jejak sejarah itu, pada setiap masa.

Hari Jadi Selayar ditandai dari masuknya Islam di Gantarang, dan setelah itu kita tidak tahu kemana kita menapak sejarah. Kita hanya mencari jalan untuk kita lalui, dan melupakan bahwa tiap waktu ada sejarahnya sendiri. Kita hanya menghadirkan sejarah untuk kita tuangkan dalam semangat kemeriahan dan senyum tawa, dalam prosesi “partir”.

“Caerimonia” itu seharusnya hadir dalam bentuk renungan – keprihatinan dan doa, sebagai proses introspeksi atas waktu yang berlalu begitu cepat, dan waktu yang akan melintas dengan cepat pula, sekaligus mencari tahu dimana posisi kita dalam lintasan waktu itu.

Hanya dengan renungan – dan keprihatinan, yang mampu membuka mata dan hati untuk melihat masa depan bersama yang lebih baik.

Tidak pernah ada kegembiraan sempurna bagi pemimpin yang sesungguhnya.

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: